INFO SEHAT, Jakarta-Tiap menit ada satu orang menjadi buta. Ini mengapa kebutaan masih menghantui masyarakat Indonesia.
"Sementara sebagian besar orang buta (tunanetra) di Indonesia berada
di daerah miskin dengan kondisi sosial ekonomi yang lemah," kata
Profesor Dr. dr. Nila Moeloek, SpM (K), Ketua Persatuan Dokter
Spesialis Mata Indonesia (Perdami) pada acara SOHO #BetterU: Hari
Penglihatan Sedunia yang diadakan SOHO Global Health di Jakarta.
Nila mengutip data WHO (World Health Organization) 2010 yang
memperkirakan terdapat 39 juta orang buta di dunia dan 246 juta orang
lainnya mengalami gangguan penglihatan. Diperkirakan 12 orang menjadi
buta tiap menit di dunia dan empat orang di antaranya berasal dari Asia
Tenggara.
Empat penyebab utama kebutaan di Indonesia berdasarkan hasil survei
kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996 adalah
katarak, glaukoma, kelainan refraksi atau kelainan mata yang
membutuhkan koreksi dengan kacamata dan penyakit lainnya yang
berhubungan dengan lanjut usia.
Nila mengatakan lebih dari 80% penyebab kebutaan sebenarnya dapat
dicegah atau diobati, khususnya seperti katarak.
"Artinya lebih dari80% orang yang buta saat ini seharusnya tidak mengalami kondisitersebut," tegas dokter Nila.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksa rutin kesehatan
matanya, menurut dokter Nila, juga menjadi pemicu terjadinya kebutaan,
selain dari gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, minum
alkohol, merokok dan kurang mengkonsumsi makanan bergizi.
Namun ia mengakui hal ini juga didasari karena tingginya biaya operasi
jika memang gangguan kesehatan mata mengharuskan untuk
operasi, daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah dan
keterbatasan tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan mata.
Ini yang juga dirasakan PERDAMI dalam setiap usaha melakukan
tindakan pengobatan mata, apalagi di sejumlah daerah yang masih
terpencil.
"Kan kita nggak mungkin mau melakukan tindakan (operasi) kalau alatnya
saja tidak ada atau tidak lengkap, masa kita mau mengoperasi mata
orang pakai parang, kan tidak seperti itu," selorohnya
Iniah yang menurut Nila hingga kini masih menjadi kendala
menanggulangi kebutaan yang harus diperhatikan pemerintah.
Anggaran pemerintah untuk Kementrian Kesehatan sebesar 2,9% dari totalanggaran pengeluaran pemerintah, menurut Nila juga turut menjadi
kendala bagi penanggulangan kebutaan.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksa rutin kesehatan
matanya, menurut dokter Nila, juga menjadi pemicu terjadinya kebutaan,
selain dari gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, minum
alkohol, merokok dan kurang mengkonsumsi makanan bergizi.
Namun ia mengakui hal ini juga didasari karena tingginya biaya operasi
jika memang gangguan kesehatan mata mengharuskan untuk
operasi, daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah dan
keterbatasan tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan mata.
Ini yang juga dirasakan PERDAMI dalam setiap usaha melakukan
tindakan pengobatan mata, apalagi di sejumlah daerah yang masih
terpencil.
"Kan kita nggak mungkin mau melakukan tindakan (operasi) kalau alatnya
saja tidak ada atau tidak lengkap, masa kita mau mengoperasi mata
orang pakai parang, kan tidak seperti itu," selorohnya
Iniah yang menurut Nila hingga kini masih menjadi kendala
menanggulangi kebutaan yang harus diperhatikan pemerintah.
Anggaran pemerintah untuk Kementrian Kesehatan sebesar 2,9% dari totalanggaran pengeluaran pemerintah, menurut Nila juga turut menjadi
kendala bagi penanggulangan kebutaan.
Memperingati Hari Penglihatan Sedunia, Nila menekankan pentingnya masyarakat memeriksakan matanya secara rutin.
Ia juga berharap pemerintah semakin meningkatkan upayanya dalam penanggulangan gangguan mata sehingga bisa mencegah dan memperbaiki kebutaan, termasuk adanya kemudahaan dalam pelayanan kesehatan mata.
Sumber : inilah.com

No comments:
Post a Comment